Friday, July 29, 2016

Proposal Praktek Kerja Lapang Cold Storage

Proposal Praktek Kerja Lapang Cold Storage

1.    PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Ikan merupakan makanan yang mudah mengalami pembusukan. Apalagi di daerah tropis seperti Indonesia yang bersuhu relatif tinggi.Akan tetapi, umur penyimpanan ikan dapat diperpanjang dengan penurunan suhu. Bahkan ikan yang dibekukan dapat disimpan sampai beberapa bulan, sampai saat dibutuhkan ikan dapat dilelehkan dan diolah lebih lanjut oleh konsumen. Rantai aliran makanan beku atau rantai dingin (cold chain) umumnya terdiri dari pembekuan, penyimpanan dalam gudang dingin, diangkut dengan mobil berpendingin (refrigerated truck), dipamerkan dalam lemari dingin di toko makanan, akhirnya disimpan di dalam freezer lemari es di rumah. Pembekuan ikan berarti menyiapkan ikan untuk disimpan di dalam suhu rendah cold storage. Seperti pendinginan, pembekuan dimaksudkan untuk mengawetkan sifat-sifat alami ikan. Pembekuan menggunakan suhu yang lebih rendah, yaitu jauh di bawah titik beku ikan. Pembekuan mengubah hampir seluruh kandungan air pada ikan menjadi es, tetapi pada waktu ikan beku dilelehkan kembali untuk digunakan, keadaan ikan harus kembali seperti sebelum dibekukan. Ikan-ikan yang dibekukan untuk dikonsumsi mentah (sashimi) mutlak memerlukan terpeliharanya sifat-sifat ikan segar yang dibekukan, agar ketika dilelehkan tidak dapat dibedakan dari ikan segar (DKP, 2014).
Pembekuan dapat mempertahankan rasa dan nilai gizi bahan pangan yang lebih baik daripada metoda lain, karena pengawetan dengan suhu rendah (pembekuan) dapat menghambat aktivitas mikroba mencegah terjadinya reaksireaksi kimia dan aktivitas enzim yang dapat merusak kandungan gizi bahan pangan. Walaupun pembekuan dapat mereduksi jumlah mikroba yang sangat nyata tetapi tidak dapat mensterilkan makanan dari mikroba (Frazier, 1977). Menurut Tambunan (1999), pembekuan berarti pemindahan panas dari bahan yang disertai dengan perubahan fase dari cair ke padat, dan merupakan salah satu proses pengawetan yang umum dilakukan untuk penanganan bahan pangan. Pada proses pembekuan, penurunan suhu akan menurunkan aktifitas mikroorganisma dan sistem enzim, sehingga mencegah kerusakan bahan pangan. Selain itu, kristalisasi air akibat pembekuan akan mengurangi kadar air bahan dalam fase cair di dalam bahan pangan tersebut sehingga menghambat pertumbuhan mikroba atau aktivitas sekunder enzim.
Proses pembekuan terjadi secara bertahap dari permukaan sampai pusat bahan. Pada pemukaan bahan, pembekuan berlangsung cepat sedangkan pada bagian yang lebih dalam, proses pembekuan berlangsung lambat (Brennan, 1981). Pada awal proses pembekuan, terjadi fase precooling dimana suhu bahan diturunkan dari suhu awal ke suhu titik beku. Pada tahap ini semua kandungan air bahan berada pada keadaan cair (Holdworth, 1968). Setelah tahap precooling terjadi tahap perubahan fase, pada tahap ini terjadi pembentukan kristal es (Heldman dan Singh, 1981).
1.2   Maksud dan Tujuan
1.2.1 Maksud
Maksud dari Praktek Kerja Magang ini yaitu untuk menambah pengetahuan, keterampilan, serta wawasan kerja di Tempat Pembekuan Ikan (Cold Storage) Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang, Jawa Tengah.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari Praktek Kerja Magang (PKM) ini antara lain sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sistem pengoperasian pembekuan ikan (Cold Storage) di Kapal Latih KM. Trevally  Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang, Jawa Tengah.
2. Untuk mengetahui tahapan proses pembekuan ikan (Cold Storage) di Kapal Latih KM. Trevally Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang, Jawa Tengah.
3.  Untuk mengetahui sistem pengoperasian dengan pengontrol alat pembekuan ikan (Cold Storage) di Kapal Latih KM. Trevally Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang, Jawa Tengah.
4.    Untuk mengetahui masalah atau kendala yang dihadapi serta solusi dalam pengoperasian mesin Cold Storage di Kapal Latih KM. Trevally Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang, Jawa Tengah.
1.3 Kegunaan
Kegunaan dari praktek kerja magang ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagi mahasiswa, sebagai informasi dan diharapkan dapat berguna untuk menambah wawasan, pengetahuan serta keterampilan secara teknis bagi mahasiswa tentang sistem pengoperasian dan perawatan mesin pembekuan ikan (Cold Storage), serta tahapan proses pembekuan ikan.
2.    Bagi nelayan, sebagai bahan informasi tentang pemanfaatan sumberdaya ikan yang berorientasi pada kelestarian dan pemanfaatan sumberdaya perikanan berkelanjutan yang bertanggung jawab sesuai dengan peraturan yang  berlaku.
3.    Bagi instansi terkait, sebagai bahan informasi dan acuan untuk mensosialisasikan kinerja yang telah dilakukan kepada semua pihak agar tercipta sikap saling mendukung diantara semua pihak demi tujuan yang akan dicapai.
1.4 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Praktek Kerja Magang ini akan dilaksanakan di Tempat pembekuan ikan (Cold Storage) Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang, Jawa Tengah., Jawa Tengah pada  1 Agustus – 31 Agutus 2015. Adapun jadwal pelaksanaan Praktek Kerja Magang dapat dilihat pada tabel 1.         
No
Kegiatan
Bulan
April
Mei
Juni
Juli
Agst
Sept
Okt
1
Pengajuan Judul dan Penyusunan Proposal







3
Survei dan Perizinan Tempat







4
Pelaksanaan Magang







5
Penyusunan Laporan








                                                    2.  MATERI DAN METODOLOGI
2.1 Teknik Pengambilan Data
            Dalam Praktek Kerja Magang (PKM) ini menggunakan dua metode atau teknik mengumpulkan data, yaitu dengan menggunakan metode primer dan sekunder.
2.1.1 Metode Primer
            Data primer merupakan data yang dikumpulkan secara langsung oleh peneliti dari tempat yang akan diteliti baik melalui observasi, Wawancara secara langsung maupun dengan cara dokumentasi. Hal ini sesuai yang diungkapkan Kartini, H., (2013) bahwa data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer dapat berupa opini subjek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian.
2.1.1.1  Metode Pengamatan/Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pengambilan data secara langsung pada suatu obyek tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Aedi, N. (2010), bahwa observasi dalam sebuah penelitian diartikan sebagai pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan melibatkan seluruh indera untuk mendapatkan data. Jadi observasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan penglihatan, penciuman,pendengaran, perabaan, atau kalau perlu dengan pengecapan. Instrumen yang digunakan dalam observasi dapat berupa pedoman pengamatan, tes, kuesioner, rekaman gambar, dan rekaman suara. Instrumen observasi yang berupa pedoman pengamatan, biasa digunakan dalam observasi sitematis dimana si pelaku observasi bekerja sesuai dengan pedoman yang telah dibuat. Pedoman tersebut berisi daftar jenis kegiatan yang kemungkinan terjadi atau kegiatan yang akan diamati.
Observasi atau pengamatan  kegiatan yaitu setiap kegiatan untuk melakukan pengukuran, pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak mengjukan pertanyaan-pertanyaan. Keuntungan observasi yaitu data yang diperoleh adalah data yang segar, keabsahan alat ukur dapat diketahui secara langsung. Sedangkan kerugian observasi untuk memperoleh data yang diharapkan, maka pengamat harus menunggu dan mengamati sampai tingkah laku yang diharapkan terjadi dan beberapa tingkah laku, bahkan bisa membahayakan jika diamati (Natalia, G., 2012).
2.1.1.2 Metode Wawancara
Untuk memperoleh data yang lebih akurat maka penulis menggunakan metode pertanyaan atau wawancara. Metode wawancara merupakan metode atau cara untuk mengambil suatu data dengan pengajuan pertanyaan secara langsung dengan responden, hal ini sesuai dengan yang dikatakan Prabowo (1996) dalam Febriani, R. A. (2013) bahwa wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seorang narasumber,caranya adalah dengan bercakap-cakap secara langsung atau bertatap muka.
2.1.1.3 Metode Dokumentasi
Wawancara adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam dengan alat perekam. Kelebihan wawancara dapat digunakan pada responden yang tidak bisa membaca dan menulis, jika ada pertanyaan yang belum dipahami, pewawancara dapat segera menjelaskannya, wawancara dapat mengecek kebenaran jawaban responden dengan mengajukan pertanyaan pembanding, atau dengan melihat wajah atau gerak-gerik responden. Sedangkan kelemahan wawancara yaitu wawancara memerlukan biaya yang sangat untuk perjalanan dan uang harian pengumpulan data (Natalia, G., 2012).
            Metode dokumentasi merupakan metode atau cara pengambilan data dari tulisan maupun foto gambar yang merupakan bentuk kegiatan atau kejadian yang sudah terjadi, sesuai pernyataan Sugiono (2013) dalam Raharjo, S. (2013) bahwa dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, ceritera, biografi, peraturan, kebijakan dan lain-lain.
Keuntungan studi dokumentasi adalah studi dokumentasi dapat memberikan jalan untuk melakukan penelitian yang sukar, studi dokumentasi tidak dilakukan secara langsung dengan orang, maka data yang diperlukan tidak terpengaruh oleh kehadiran peneliti atau pengumpulan data, analisis longitudinal, menjangkau jauh ke masa lalu, dengan dokumen-dokumen yang tersedia, teknik ini memungkinkan untuk mengambil sampel yang lebih besar karena biaya yang diperlukan relatif kecil (Natalia, G., 2012).
2.1.1.4 Partisipasi aktif
Partisipasi aktif ini menyangkut kegiatan inspeksi,pemeliharaan dan perawatan yang akan di laksanakan dan di kerjakan oleh mahasiswa terkait di bantu dengan pihak intansi atau pegawai.
2.1.2 Metode Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia (Azwar, 2010). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan.
Data Sekunder adalah data normatif terutama yang bersumber dari perundang-undangan. Dimana data sekunder meliputi skema dan prosedur perizinan penyelenggaraan reklame, jurnal-jurnal, dan artikel-artikel yang relevan terhadap masalah tersebut (Bandi, A., 2012).

Proposal Praktek Kerja Lapang Cold Storage
Proposal Praktek Kerja Lapang Cold Storage
Proposal Praktek Kerja Lapang Cold Storage



No comments:

Post a Comment

BERKOMENTARLAH YANG BAIK DAN SOPAN